Sebelum saya kerja di pabrik televisi, saya tidak tahu jika televisi pun menggunakan mikrokontroler. Pikir saya televisi itu hanya terdiri dari rangkaian-rangkaian seperti radio konvensional yang biasa dijual di pasaran. Ada tuner, pre-amplifier, tone control, dan amplifier. Dengan asumsi bahwa kalau radio hanya sinyal suara saja yang ditangkap, namun kalau televisi yang ditangkap sinyal suara beserta gambar.
Anggapan saya itu tidak sepenuhnya salah. Benar! Namun rangkaian seperti itu hanya ada di televisi zaman purbakala saja. Sekarang? Ya jelas, semuanya ternyata sudah digital. Sebenarnya sih kalau kita lihat dari remote control-nya saja sudah ketauan; pastilah digital. Wong sinyal yang dikirimkan ke televisi pun merupakan data digital serial. Dan ternyata fungsi-fungsi yang biasa kita gunakan seperti volume, pindah channel, OSD (On Screen Display), dan sebagainya; merupakan sistem digital.
Baiklah, jika kita coba membuka sebuah televisi maka kita akan menemukan IC utama di dalam rangkaian (berbeda setiap televisi), biasanya IC itulah yang menjadi pengontrol utamanya. IC tersebut tak lain adalah sebuah CPU (Central Processing Unit) yang biasanya berbentuk mikrokontroler. Pada beberapa jenis televisi, mikrokontroler ini merupakan IC tersendiri, sedangkan IC pemrosesan gambar dan suaranya tersendiri. Tapi ada pula yang terdiri dari satu IC utama (ukurannya biasanya paling besar) yang sudah terdiri dari pemsosesan sinyal dan CPU—model seperti ini yang dipergunakan di pasaran saat ini.
Untuk menyimpan data volume dan channel diperlukan sebuah tempat penyimpanan (memori). Mungkin beberapa dari kita berpikir untuk apa menggunakan memori segala!? Lagipula kalau dipakai paling hanya untuk menyimpan data ini dan itu. Anggapan seperti ini pun saya rasakan sebelumnya, dan ternyata salah! Apapun tindakan kita terhadap televisi semuanya ‘diingat’ dalam memori, seperti mengubah volume, ganti channel, setting kecerahan gambar, melihat video dengan masuk ke mode AV, dll. Bahkan ketika kita mematikan TV kita ke posisi standby pun, status tersebut diingat olehnya.
Jadi televisi yang dijual di pasaran saat ini boleh dibilang merupakan perangkat elektronika yang sudah memiliki kecerdasan, atau paling tidak bisa disebut perangkat elektronika yang cukup canggih jika tidak ingin dikatakan demikian.
Apakah Anda juga berpikiran seperti itu sebelumnya?